Mad & Listen
Episode 2
Baca juga Mad & Listen Episode 1
Setelah bertukar
id Kakaotalk ia mulai memberitahuku cara kerja Mad & listen yang ia
maksudkan, misalkan saat aku sangat marah hingga aku ingin menangis karena tak
sanggup lagi menahan amarahkau maka aku lah yang akan Mad, meskipun ia juga
sedang marah karena aku adalah orang lebih butuh untuk Mad, maka ia akan
menjadi Listen, begitu juga sebaliknya.
Mendengarkan penjelasan yang ia katakan aku menyetujuinya karena ini
benar-benar menguntungkan bagi kedua belah pihak.
Tiba-tiba ia
mengirim pesan kepadaku dan bertanya....
Saga : apakah kamu sedang ingin marah hari ini,
jika ia aku akan mendengarkan amarahmu, silahkan.
Emma : sebenarnya aku sedang ingin marah, bahkan
sangat ingin namun itu tidak mungkin karena aku tinggal di rumah orang tuaku,
jika aku berteriak dengan marah mereka pasti akan mendengar dan aku pasti akan
di amuk habis-habisan oleh orang tuaku.
Saga : apakah kamu bisa berpura-pura lari pagi?
Berhentilah di tengah jalan yang tidak terlalu banyak orang dan marah-marahlah
kepadaku disitu. Takkan ada yang mendengarmu selain aku.
( aku berpikir
sejenak kemudian bangkit dan menemui ibuku untuk meminta ijin lari pagi,
seperti yang kalian tahu apapun yang akan kulakukan haruslah atas persetujuan
mereka. Dan apabila aku tiba-tiba lari pagi, pasti mereka akan curiga pikirku)
Aku berjalan dengan
ragu menuju dapur menghampiri ibuku dengan rasa takut, dan bertanya (ma, aku
mau lari pagi sebentar ya?)
Aku tak pernah
menduga mamaku berkata ‘’ ya udah lari pagi sana, daripada cuman diam dikamar
kayak ayam bertelur, mama juga males liat kamu terus, udah gak kerja, belum
nikah malu-maluin mama, teman mama anaknya sudah menikah dengan pria kaya,
kerjaannya bagus dan gajinya tinggi, mama gak ngerti sama kamu gak bisa apa
banggain orang tua, percuma mama capek-capek besarin kamu dan ........ bla..... bla.... bla... )
Karena sudah
mendapat ijin akupun segera bergegas keluar dari rumah, tak ingin mendengarkan
kata-kata menyakitkan lainnya dari mamaku. Aku berlari secepat mungkin, dadaku
rasanya panas, aku rasanya ingin menangis namun aku tahan, aku hanya berlari
sekencang mungkin hingga berada di persimpangan dimana tak ada orang lain. Aku
berhenti ku ambil HP ku dan menelpon Saga, ia segera mengangkatnya. Saat
mendengarkan suaranya berkata Hallo, seketika aku menangis sejadi-jadinya, tak
ada satu katapun terucap dariku hanya tangisan yang berlangsung beberapa menit.
Namun, tiba-tiba saga berkata.....
Saga : katakan apa yang terjadi, katakan itu
dengan nada tinggi... anggaplah aku yang menyakitimu dan membuatmu marah.....
katakan..... marahlah......
Emma : dengan terbata-bata aku berkata.. aa..ku....
ma..raaa..h..... hiks...hiks.. ( aku menangis kembali)
Saga : lanjutkan......... luapkan semua
kebenciannmu....
Emma : aaa...ku... benci...., aaa..kuu....
see..dihh....
Saga : kenapa... apa alasannya... katakana dengan
keras,,, berteriaklah... keluarkan amarahmu.... kataaaaakaaan.... ( Saga
berteriak kepadaku)
Tiba-tiba aku
tersentak karena teriakannya, dn amarahku semakin tinggi hingga akupun tanpa
sadar berteriak kepada Saga...
Emma : aaaaaku MARRRRAHHHH, aku tidak mau segalanya
di atur, aaakuu punya mimpiiii, aku tidak ingin terkekang lagi, akuuuuu
LEEELAAAAH di caci maaakii, kaaaaaaliaaaan keluargaku, keeeenaaaaapaaaaa
kaaaalian tega berkata kasar padaku HHAAAAH.....
Aapaaaakah
aaaakuuuu hanya SAMPAH dimataaa kaaaaliaaaan, ..... aaakuuuu aaanak
kaaaaaaaliaaaaan...... hiks,,,hiks,,hiksss...
Suaraku seketika
melemah, dadaku tak sepanas sebelumnyaaaa.... aku kembali menangis dan seketika
terduduk memeluk lututku... menyembunyikan air mataku...... aku menangis namun
tangisanku berisi sedikit kedamaian kali ini.. rasanya ada beban yang terangkat
dari dadaku meski sedikit namun rasa ini mendamaikanku.
Saga tak
berbicara dia hanya mendengarkanku menangis, hanya suara nafasnya yang
terdengar olehku. Beberapa menit kemudian karena sudah bisa mengendalikan
tangisanku, aku mencoba berbicara kepa Saga.
Emma : kaaaamuuuu.... (kataku, dengan suara sengau)
.... terimakasih...
Saga : ia..... (jawabnya singkat )
Saga :setelah ini, kamu harus bersiap-siap
mendengarkan amarahku, yang mungkin akan menyakitimu.(lanjutnya)
Emma : hmm... apakah kamu merasa sakit hati dengan
amarahku..
Saga : tidaaaak.... aku malah seperti merasakan
kesedihan dan deritamu..
Emma : maka, saamaa.,,,
Saga : maksudnya?
Emma : aku juga tidak akan sakit hati karena
amarahmu.
Saga : baiklah, sekarang berjalanlah sejenak...
tenangkan dirimu... kamu harus kembali ke rumah, dan tak mungkin kamu membiarkan
mereka melihat mata sembabmu kan.... karena pasti akan ada masalah baru karena
itu....
Emma : ia.... baiklah..... bye....
Saga : bye.....
Tut...tut..tut....
Percakapan kami
berakhir, aku berpikir untuk orang yang baru kukenal hari ini, tepatnya
beberapa jam lalu. Bagaimana ia bisa begitu mengerti apa yang aku rasakan, dan
bagaimana ini bisa terjadi secepat itu, bertemu dengan Saga, orang yang sangat
aku butuhkan selama ini. Apa yang kelak akan terjadi dan banyak pertanyaan lainnya
berputar di pikiranku. Namun seperti saran Saga, aku perlahan berjalan
menenangkan diri sembari menghilangkan sembab dimataku sebelum kembali kerumah.
Didalam perjalanan tiba-tiba aku berpikir, akan seperti apa rasanya mendengar
laki-laki yang tidak ku kenal meluapkan amarahnya padaku, namun tiba-tiba hatiku
berkata... aku menunggu amarahmu Saga...
Bersambung.......
No comments